Search Engine Optimization atau SEO adalah teknik membuat website bisa top 10 di Google Search. Para praktisi akhirnya bisa menjadikannya ilmu terapan dalam mata kuliah SEO di Fakultas/Jurusan Bisnis Digital.

Menurut Hendra W Saputro, praktisi SEO yang juga dikenal sebagai pembicara digital marketing, SEO tidak hanya berlaku untuk website namun aset digital lain seperti media sosial Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube dan Google Business Profile (GBP).

Tampilan Aset Digital di Search Engine Search Result (SERP)

Aset digital yang bisa dioptimasikan secara SEO adalah website, Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube, dan Google Business Profile. Berikut masing-masing hasil SEO di search engine Google:

Tampilan SEO Website di SERP

SEO untuk website

Tampilan SEO Instagram di SERP

SEO untuk Instagram

Tampilan SEO Facebook di SERP

SEO untuk Facebook

Tampilan SEO Tiktok di SERP

SEO untuk Tiktok

Tampilan SEO Youtube di SERP

SEO untuk Youtube

Tampilan SEO GBP di SERP

SEO untuk Google Bisnis

Selain aset digital tersebut diatas, ada media lain yang juga berpotensi muncul di SERP, diantaranya Pinterest, LinkedIn, dan file PDF.

Memahami Konsumen

Masih menurut Hendra, konsumen mencari produk atau informasi akan fokus pada aset digital di 10 peringkat pertama dalam SERP Google. Maka praktisi SEO harus berlomba-lomba untuk meningkatkan rangking aset digitalnya. Kompetisi akan selalu ada dan dinamis.

Sebelum aksi optimasi SEO, praktisi harus memahami perilaku dan pemikiran konsumen terlebih dahulu. Tujuannya agar praktisi tidak terjebak pada konten hasil pikirannya sendiri, egonya sendiri. Kawatir nya bila tidak memahami konsumen maka konten nya tidak muncul sesuai harapan konsumen itu sendiri.

Maka untuk memahami konsumen perlu untuk lakukan riset pasar (market research). Konten apakah yang sesuai dengan pikiran konsumen. Singkatnya, kata-kata apakah yang digunakan oleh konsumen untuk mencari produk?

Kata-kata inilah bernama Keywords dalam ilmu SEO. Praktisi harus tahu keywords yang pas agar konten nya muncul di SERP di sisi konsumen. Ini penuh tantangan.

Banyak alat-alat (tools) yang bisa digunakan untuk melakukan riset pasar. Tentunya akan dikupas tuntas mendalam di mata kuliah SEO.

Riset keywords

Menurut Google, sistem peringkat otomatis Google dirancang untuk menyajikan informasi yang bermanfaat dan tepercaya. Informasi tersebut utamanya dibuat untuk memberikan manfaat kepada konsumen, bukannya untuk mendapatkan peringkat di mesin pencari (search engine).

Informasi/konten yang tersaji dalam aset digital tentunya punya klasifikasi/jenis yang disukai oleh Google. Jenis konten yang tersaji bisa berupa konten teks, gambar, dan video.

Tentunya dalam menyajikan konten tersebut harus mempunyai syarat atau unsur-unsur yang bisa diterima oleh Google. Sejatinya Google itu membaca teks dan hal tersebut berdasarkan riset penelitian oleh Hendra W Saputro.

Manfaat SEO

Setelah memahami konsumen dan melakukan kegiatan optimasi SEO, maka aset digital mempunyai potensi berada di 10 peringkat teratas Google Search.

Selanjutnya konsumen akan melakukan kunjungan-kunjungan ke aset digital yang muncul di SERP. Salah satunya berkunjung ke aset digital milik praktisi tadi.

Aset digital harus terstruktur dan memudahkan konsumen untuk faham dan melakukan pemesanan atau kontak dengan praktisi. Maka berpotensi mendatangkan sales untuk usaha praktisi.

Manfaat SEO sangat terasa oleh Hendra W Saputro yang bisa dikatakan selama ini (21 tahun lebih) menggantungkan sales marketing bisnisnya melalui SEO. Mulai dari bisnis IT, Kuliner, hingga transportasi. Produknya ada dan tinggal memunculkannya di SERP melalui kegiatan optimasi SEO.

Pengalaman Hendra mencicipi manisnya SEO selalu dibagikan kepada UKM dan siswa mahasiswa melalui seminar, workshop, dan menjadi dosen praktisi mengasuh mata kuliah SEO.

Kuliah SEO untuk UKM